Senin, 19 Januari 2015

Jawa Barat akan Bangun 22 Waduk

Langkah awal dalam pembangunan waduk yaitu pembebasan lahan seluas 5 hektare di Baleendah.
UNTUK meminimalisasi banjir di Bandung selatan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera membangun 22 waduk dan tiga bendungan berkapasitas besar di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Wakil Gubernur Jawa Barat menjelaskan rencana pembangunan 22 waduk dan tiga bendungan besar ini berlokasi di Bojong Citepus, Parunghalang dan Cieunteung, Kecamatan Baleendah.

“Pembangunan 22 waduk dan tiga bendungan berskala besar. Kami akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wahana Sungai Citarum. Sebab biaya proyek pembangunan antisipasi banjir di Bandung selatan bersumber dari APBN, APBD Provinsi dan kabupaten belum dinyatakan final,” ujar Deddy, kemarin.

Pada kesempatan itu Wakil Bupati Bandung Deden Rumaji menambahkan biaya untuk pembangunan waduk dan bendungan, sebesar Rp150 miliar. “Dana tersebut termasuk pembebasan lahan untuk waduk, bendungan dan sodetan,” kata Deden. Langkah awal untuk pembangunan waduk dengan membebaskan lahan seluas 5 hektare di Baleendah. “Untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut, kami akan melibatkan KPK dalam mengawasi anggaran,” tambahnya.

Pemkab setempat telah membuat dua folder di dua titik genangan di Parunghalang dan Bojong Citepus namun belum bisa berfungsi maksimal. Selain Bandung selatan, sejumlah daerah masih dikepung banjir. Di Kabupaten Banyumas,Jawa Tengah bencana banjir masih menggenangi puluhan rumah di dua kecamatan sejak pekan lalu. Sedangkan di Cilacap, banjir makin tinggi dan menerjang sedikitnya 8 kecamatan. Banjir terparah di Sidareja, Kedungreja, Gandrungmangu dan Kroya.

Kemudian di Bali, kawasan Jalan Buana Raya Kelurahan Padangsambian, Denpasar Barat selalu menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba. Untuk mengantisipasi bencana, Pemprov Bali saat ini sudah menyiapkan dana cadangan Rp20 miliar lebih. Gubernur Bali Made Mangku Pastika menjelaskan uang Rp20 miliar sudah disiapkan untuk antisipasi apabila terjadi bencana banjir karena sedang memasuki musim hujan.

“Saat ini seluruh personel dan peralatan dalam kondisi siaga 24 jam. Logistik dan peralatan berat juga sudah siap,” kata Pastika. Selain banjir, ancaman longsor akibat hujan deras masih terjadi di sejumlah tempat. Pergerakan tanah yang terjadi sejak Minggu (20/12) masih mengancam warga Kampung Datar Huni, Desa Melati Suka, Kecamatan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Kundang Sodikin mengungkapkan jumlah warga yang rawan terkena tanah longsor sebanyak 19 rumah dengan penghuni 52 orang.
Longsor juga menimpa tebing yang berada di komplek makam keluarga Cendana Astana Giribangun di Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Akibat longsor, akses jalur Matesih-Girilayu yang juga jalan utama menuju lokasi pemakaman ditutup sementara.

Pada bagian lain untuk mengantisipasi terjadinya pergerakan tanah, Pemkab Sukabumi, Jawa Barat membutuhkan alat deteksi dini longsor. “Selama ini kami hanya mengandalkan relawan untuk ditempatkan di wilayah-wilayah rawan bencana,“ ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sukabumi, Usman Susilo. (Tim/N-4) Media Indonesia, 24/12/2014 halaman 9