Sabtu, 11 Oktober 2014

Bupati Bandung Belajar Manajemen Pariwisata

BUPATI Bandung, Jawa Barat, Dadang M Nazer dan sejumlah stafnya mengunjungi kantor Pemerintah Kabupaten Badung, Bali, kemarin. Mereka mengaku hendak belajar manajemen pariwisata dari daerah ini.

“Kami harus belajar dari Badung karena pariwisata menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Kami menilai belajar ke Badung lebih efektif daripada ke wilayah lain, apalagi ke luar negeri,“ paparnya. Ia menambahkan potensi wisata Kabupaten Bandung juga sangat besar.
Sayangnya, potensi itu belum tergali, sehingga sumbangan sektor pariwisata untuk PAD baru sebesar Rp600 miliar. Adapun di Kabupaten Badung, wisata mampu memberi sumbangan hingga 80% dari total PAD Rp2,8 triliun.

Pemkab Bandung, lanjut Dadang, akan terus berusaha meningkatkan PAD dari sektor pariwisata. “Belajar dari Badung, kami akan menerapkan sistem bagi hasil dari pengelolaan pariwisata, yang selama ini dikelola Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Selama ini, kami tidak menerima kontribusi. Padahal, pembangunan infrastrukturnya didanai pemkab,“ tandas Bupati.

Kabupaten Bandung tengah berkonsentrasi membuat kon sep wisata pertanian, karena banyak sentra pertanian di wilayah ini, khususnya di Bandung Selatan. Upayanya, pemkab membangun infrastruktur jalan dari Kertasari-Pangalengan-Ciwidey, yang akan terkoneksi dengan ibu kota kabupaten di Soreang.

Program berbeda tengah digelar Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur. Seperti diungkapkan Bupati Suyoto, pihaknya tengah menyiapkan lapangan kerja bagi 6.000 pekerja migas.

Kebijakan itu digulirkan terkait berakhirnya pekerjaan proyek engineering procurement and constructions 1, pada ladang minyak Banyuurip, di kawasan Blok Cepu, yang akan selesai akhir tahun ini. “Kami harus mengantisipasi, supaya tidak banyak pekerja yang menganggur,“ tutur Suyoto.

Salah satu upayanya adalah menampung mereka pada proyek membangun Waduk Gongseng pada 2015, juga kantor pemkab yang berlantai tujuh. “Skenario lain, kami akan menyelenggarakan pelatihan keterampilan kerja bagi sekitar 12 ribu pekerja,“ tandasnya.
Di Surakarta, Jawa Tengah, pemerintah kota meluncurkan badan usaha milik masyarakat berbentuk perseroan terbatas. Badan usaha pertama di Indonesia ini dioperasikan untuk memacu ekonomi kerakyatan.

Peluncuran badan usaha tersebut dilakukan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo di Kampung Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. “Modal awal badan usaha ini berasal dari pemkot. Kami juga memberikan bimbingan teknis, alat produksi, dan tambahan modal jika dibutuhkan,“ tuturnya.

Badan usaha bernama PT Sejahtera Insan Perempuan itu bergerak dalam bidang usaha daur ulang limbah, yang diubah menjadi aneka produk kerajinan. (BU/YK/FR/N-3) Media Indonesia, 10/10/2014, hal : 13